Postingan

In Another Life: Jika Waktu Berpihak

Ada hal-hal dalam hidup yang berubah tanpa benar-benar kita sadari kapan tepatnya. Waktu berjalan. Dan seperti yang sering orang bilang, segalanya akan berubah. Termasuk aku. Hidup membawaku ke versi yang bahkan dulu tidak pernah kubayangkan. Versi yang lebih kuat, katanya. Versi yang lebih mandiri, katanya. Versi yang bisa berdiri sendiri tanpa harus bergantung pada siapa pun. Bukan perubahan besar yang datang tiba-tiba, tapi perubahan kecil yang perlahan menumpuk…sampai suatu hari kita menoleh ke dalam diri sendiri dan bertanya,  “sejak kapan aku jadi seperti ini?” Aku tidak lagi secerita dan seceria dulu.  Tidak lagi selantang dulu.  Tidak lagi mudah tertawa hanya karena hal-hal sederhana. Bukan karena aku tidak ingin,  tapi karena hidup mengajarkanku banyak hal yang tidak selalu ringan. Dan tidak ada yang benar-benar memberitahuku…  bahwa menjadi kuat sering kali berarti harus terbiasa menahan semuanya sendirian. Ada hari-hari dimana semuanya terasa biasa sa...

Buku yang Tak Lagi Bisa ku Baca

Tiga  tahun tentu bukan waktu yang pendek.  Itu cukup untuk tumbuh bersama. Untuk menghafal bagaimana cara mu tertawa, bagaimana caranya menyebut namamu saat aku sedang cemas, dan bagaimana kamu mendengarkan musik favoritku hanya karena kamu sangat tahu kalau aku suka itu.   Tiga tahun adalah waktu yang cukup untuk mengakar dalam hidup seseorang, bahkan jika akhirnya harus menjadi masa lalu. Kami bertemu saat hidup masih sederhana. Saat definisi cinta hanyalah genggaman tangan setelah pulang sekolah, pesan singkat penuh emotikon, dan janji-janji kecil yang terasa besar karena kami percaya pada “selamanya”.  Ada satu bab dalam cerita kami yang tak pernah bisa aku lupakan—masa-masa kami di SMA. Masa dimana semuanya dimulai. Kami bukan sekadar sepasang anak muda yang saling menyukai. Kami adalah dua manusia yang saling menjadi pelindung satu sama lain. Di usia yang masih belajar mengenali arah, kami saling menggenggam erat, seolah dunia ini terlalu besar untuk dihadapi ...