Buku yang Tak Lagi Bisa ku Baca

Tiga tahun tentu bukan waktu yang pendek. Itu cukup untuk tumbuh bersama. Untuk menghafal bagaimana cara mu tertawa, bagaimana caranya menyebut namamu saat aku sedang cemas, dan bagaimana kamu mendengarkan musik favoritku hanya karena kamu sangat tahu kalau aku suka itu. 

Tiga tahun adalah waktu yang cukup untuk mengakar dalam hidup seseorang, bahkan jika akhirnya harus menjadi masa lalu.


Kami bertemu saat hidup masih sederhana. Saat definisi cinta hanyalah genggaman tangan setelah pulang sekolah, pesan singkat penuh emotikon, dan janji-janji kecil yang terasa besar karena kami percaya pada “selamanya”. 


Ada satu bab dalam cerita kami yang tak pernah bisa aku lupakan—masa-masa kami di SMA. Masa dimana semuanya dimulai.

Kami bukan sekadar sepasang anak muda yang saling menyukai. Kami adalah dua manusia yang saling menjadi pelindung satu sama lain. Di usia yang masih belajar mengenali arah, kami saling menggenggam erat, seolah dunia ini terlalu besar untuk dihadapi sendirian.


Saat aku lelah karena masalah di rumah atau tugas sekolah yang menumpuk, dia adalah tempatku bersandar. Dan saat dia merasa takut gagal, aku adalah suara yang menguatkannya dari balik layar ponsel—atau dari sela-sela bangku kelas. Kami saling menyemangati untuk belajar, untuk percaya bahwa masa depan itu mungkin, selama kami berdua saling ada.


Dia bukan sekadar seorang pasangan pada saat itu. Namun dia adalah tempat pulang dari hari-hari remaja yang bising. Dan aku? Aku mencintainya dengan cara paling jujur yang pernah kumiliki.


Kami pernah menggambar masa depan. Bukan di atas kertas, tapi lewat percakapan kecil di sela pulang sekolah, atau mimpi-mimpi yang dilontarkan setengah serius saat senja mulai turun. 


Kami pikir, suatu hari nanti, kami akan menghadapi dunia bersama. Kami pikir, nanti kami akan saling menunggu di ujung segala kisah, dengan mata berbinar dan tangan menggenggam harapan.

Tapi ternyata, tidak semua masa depan yang kita rancang bisa terwujud. Tidak semua "kita" bisa sampai di garis akhir. Tidak semua cinta bisa tumbuh hingga akhir.


Kita punya rencana tapi semesta punya cara. 2016, aku pindah. Sangat diluar rencana yang pernah ku buat. Semesta terlalu tiba-tiba membawa ku ke titik itu. 


Dan pada saat itu… Bukan hanya kota yang berganti, tapi juga arah hidup kami. Komunikasi menipis, lalu perlahan hilang. Tidak ada perpisahan dramatis. Tidak ada air mata di ujung gerbang. Hanya diam yang memanjang dengan perasaan yang masih mendalam satu sama lain namun tidak bisa di lanjutkan. 


Karena semakin kita memaksakan, pada akhirnya di satu titik itulah lambat laun kita malah akan saling menyakiti. Dan pada akhirnya, jarak lah yang perlahan membelah kami menjadi dua dunia yang berbeda.

Lalu, tahun 2017… dia datang ke kota yang kini ku tinggali. Dia berniat untuk memperdalam kemampuan bahasa Inggrisnya untuk persiapan studi nya. Di satu sisi kita masih berharap satu sama lain agar menjadi sebuah titik temu yang bisa diperbaiki dengan segala resiko yang ada.


Namun ternyata lagi-lagi, masa kita sudah tidak bisa untuk itu. Ironis bukan? Saat kami akhirnya berada dalam jarak yang begitu dekat—satu kota yang sama, satu langit yang sama—kami justru tidak bertemu. 


Saat itu semesta berusaha menjauhkan segala kemungkinan dan peluang kita bertemu. Karena pada saat itu, kami berjalan di jalanan yang mungkin pernah bersinggungan, tapi mata kami tak saling menangkap. Seolah semesta berkata, “Ini bukan waktunya.” Dan mungkin memang tidak akan pernah ada waktunya lagi.

Setelah itu, aku hanya menjadi penonton dari jauh.
Menonton hidupnya terus berjalan, tanpa aku di dalamnya. Menonton dia bahagia, menua, bertumbuh… bukan bersamaku.


Aku tahu dia menikah. Aku pun begitu. Kami menjalani hidup dengan orang yang berbeda. Tapi itu tidak serta-merta membuat cinta pertama menghilang. 


Karena menurutku, cinta pertama itu tidak seperti lilin yang padam saat angin bertiup. Ia seperti bara kecil di dalam hati. Tidak menyala, tapi tetap hangat. Tetap ada.

Beberapa waktu lalu, aku tahu dia sedang di suatu kota kelahiran papah nya. Kota yang dulu salah satu jadi bucket list kami untuk liburan bersama. Jaraknya tidak jauh dari tempat ku. Tiga jam dari tempatku sekarang. Iya betul. Tiga jam. Waktu yang mungkin bisa ditempuh dalam satu sore. 


Tapi jarak kami bukan lagi soal kilometer, tapi soal keadaan. Aku tahu, aku tak bisa mendekat. Aku bukan siapa-siapa dalam hidupnya sekarang. Hanya nama yang pernah dia sebut pelan dalam doa masa muda. Dan mungkin sekarang… bahkan doa itu pun sudah tidak lagi terselipkan untukku.

Lucu ya, bagaimana semesta mempermainkan jarak. Dulu kami begitu dekat, tapi akhirnya dijauhkan. Hampir 10 tahun kami di jauhkan, berjuang di cerita masing-masing tanpa pernah berkabar lagi. Hanya sebatas memantau dari sebuah postingan yang kita bagikan di media sosial kita masing-masing. Tidak melewati batas apapun diantara kami.


Sekarang kami begitu dekat lagi, tapi tidak bisa saling menyentuh. Namun, seolah ada tangan tak kasat mata yang berkata, “Kalian sudah selesai. Jangan coba membuka kembali apa yang telah selesai ditulis.”

Tapi hatiku tetap berbisik…
“Boleh aku lihat dia sekali saja? Bukan untuk meminta kembali, bukan untuk mengganggu hidupnya. Hanya untuk menenangkan rindu yang sejak lama tak pernah mendapat ruang.”

Namun kenyataan tak memberi celah. Kami adalah cerita yang sudah selesai. Bahkan jika aku masih mengingat setiap detailnya. Bahkan jika aku masih merasa, dia adalah buku terbaik yang pernah kubaca. 


Buku yang membuatku menangis, tersenyum, dan tumbuh. Buku yang tidak pernah selesai kurindukan. Tapi buku yang tak lagi bisa kubaca.

Dan kini, kami berdua hidup di bab yang berbeda, buku yang berbeda, genre yang berbeda.
Babku sudah tidak ada di bukunya, begitu juga sebaliknya.

Tapi aku ingin dia tahu, meski tak akan pernah kukatakan…
Terima kasih.
Terima kasih sudah menjadi bagian dari hidupku.
Terima kasih karena pernah mencintaiku dalam versi kita yang paling murni.
Dan meski akhir ceritanya bukan kita, kamu tetap tokoh yang paling aku jaga dalam ingatan.

Aku ikhlas. Tapi aku tidak lupa.
Karena melupakan bukan satu-satunya bentuk kelegaan. Kadang, mengingat dengan lapang juga bentuk ikhlas paling tulus.


Dan sekarang aku menyadari—
Kami dulu bukan hanya cinta remaja biasa. Kami adalah dua anak muda yang mencoba belajar jadi dewasa dengan saling menggenggam. 


Kami bukan cinta yang hanya dipenuhi pelukan dan cemburu. Kami adalah cinta yang saling dorong untuk maju, saling dukung untuk tumbuh. Cinta yang dibangun dari harapan dan rasa percaya. Bukan hanya tentang “aku dan kamu”, tapi tentang “kita”.

Sekarang, saat aku menoleh ke belakang… aku tidak menyesal.
Aku hanya terharu. Karena kami pernah jadi tempat pulang satu sama lain.
Dan meski jalannya harus berakhir, bab itu akan selalu jadi yang paling hangat di hatiku.

Kami saling bergantung, kami saling percaya…
Kami saling mengira bahwa hidup ini akan tetap mempertemukan kami di ujung jalan.

Tapi ternyata, ada takdir yang lebih dulu menjemput kami ke arah berbeda.
Dan tidak apa-apa. Karena sekarang aku tahu—meski tidak berakhir bersama,
kisah kami tetap benar. Tetap tulus. Tetap hidup… dalam ingatan.

Hei kamu…
Terima kasih karena pernah jadi rumah.
Meski sekarang kamu sudah menjadi rumah untuk orang lain. Mari kita bahagia di kisah kita masing-masing. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

In Another Life: Jika Waktu Berpihak