Buku yang Tak Lagi Bisa ku Baca
Tiga tahun tentu bukan waktu yang pendek. Itu cukup untuk tumbuh bersama. Untuk menghafal bagaimana cara mu tertawa, bagaimana caranya menyebut namamu saat aku sedang cemas, dan bagaimana kamu mendengarkan musik favoritku hanya karena kamu sangat tahu kalau aku suka itu. Tiga tahun adalah waktu yang cukup untuk mengakar dalam hidup seseorang, bahkan jika akhirnya harus menjadi masa lalu. Kami bertemu saat hidup masih sederhana. Saat definisi cinta hanyalah genggaman tangan setelah pulang sekolah, pesan singkat penuh emotikon, dan janji-janji kecil yang terasa besar karena kami percaya pada “selamanya”. Ada satu bab dalam cerita kami yang tak pernah bisa aku lupakan—masa-masa kami di SMA. Masa dimana semuanya dimulai. Kami bukan sekadar sepasang anak muda yang saling menyukai. Kami adalah dua manusia yang saling menjadi pelindung satu sama lain. Di usia yang masih belajar mengenali arah, kami saling menggenggam erat, seolah dunia ini terlalu besar untuk dihadapi ...