In Another Life: Jika Waktu Berpihak

Ada hal-hal dalam hidup yang berubah tanpa benar-benar kita sadari kapan tepatnya.

Waktu berjalan. Dan seperti yang sering orang bilang, segalanya akan berubah.

Termasuk aku.

Hidup membawaku ke versi yang bahkan dulu tidak pernah kubayangkan. Versi yang lebih kuat, katanya. Versi yang lebih mandiri, katanya. Versi yang bisa berdiri sendiri tanpa harus bergantung pada siapa pun.

Bukan perubahan besar yang datang tiba-tiba, tapi perubahan kecil yang perlahan menumpuk…sampai suatu hari kita menoleh ke dalam diri sendiri dan bertanya,  “sejak kapan aku jadi seperti ini?”

Aku tidak lagi secerita dan seceria dulu.  Tidak lagi selantang dulu.  Tidak lagi mudah tertawa hanya karena hal-hal sederhana.

Bukan karena aku tidak ingin,  tapi karena hidup mengajarkanku banyak hal yang tidak selalu ringan.

Dan tidak ada yang benar-benar memberitahuku…  bahwa menjadi kuat sering kali berarti harus terbiasa menahan semuanya sendirian.

Ada hari-hari dimana semuanya terasa biasa saja, tapi di dalamnya ada lelah yang sulit dijelaskan. Lelah yang bukan hanya tentang pekerjaan,  tapi tentang perasaan yang harus terus dipahami sendirian.

Aku belajar menjadi kuat. Belajar berdiri tanpa banyak bergantung.  Belajar menyelesaikan semuanya sendiri. Aku belajar bahwa tidak semua orang akan tinggal. Tidak semua yang kita harapkan akan berjalan sesuai rencana.  Dan tidak semua hubungan akan memberikan kita rasa yang kita butuhkan.

Dan di proses itu… aku kehilangan sesuatu. Entah itu versi diriku yang dulu, atau perasaan yang dulu pernah begitu akrab.

Lucunya… aku tidak marah pada hidup. Aku hanya lelah.

Kadang, tanpa alasan yang jelas, aku berhenti sejenak. Mengingat hal-hal yang dulu terasa sederhana, tapi sekarang terasa jauh. 

Mengingat bagaimana rasanya dipahami tanpa harus menjelaskan terlalu banyak. Mengingat bagaimana rasanya didengarkan tanpa harus menunggu lelah terlebih dahulu. Mengingat bagaimana rasanya… tidak merasa sendirian, bahkan saat dunia sedang tidak baik-baik saja.

Lucu ya…hal-hal seperti itu dulu terasa biasa saja. Sekarang justru terasa mahal.

Aku tidak sedang membandingkan. Aku hanya sedang menyadari… bahwa ada bagian dalam hidupku yang berubah. Dan mungkin, perubahan itu yang membuatku sesekali merindukan sesuatu yang pernah ada.

Terkadang aku berpikir… apakah hanya aku di sini yang masih menyimpan kenangan tentang kita? Tentang masa remaja yang sudah belasan tahun berlalu, tapi rasanya masih hangat di ingatan.

Sekali lagi, aku tidak ingin merusak apa pun. Kamu tahu aku orang seperti apa.  Dan aku pun tidak ingin hidupku dirusak, maka aku tidak boleh merusak siapa pun, dalam kisah apa pun.

Tapi… kekosongan dari hal-hal yang seharusnya aku rasakan, membawaku pada sepi yang dulu tidak pernah sempat aku kenal saat bersamamu. Aku tidak merindukanmu untuk kembali.  

Aku hanya… merindukan perasaan itu.

Perasaan dimana aku tidak harus menjelaskan diriku berkali-kali. Perasaan dimana aku tidak harus menunggu lelah untuk didengarkan.  Perasaan dimana aku tidak merasa sendirian, meskipun hidup sedang tidak baik-baik saja.

Bukan karena aku tidak bersyukur dengan hidupku sekarang. Tapi karena terlalu sering merasa hampa, terlalu sering merasa sendiri,  di tempat yang seharusnya tidak seperti itu.

Aku tetap berjalan sejauh ini, bukan untuk menyerah. Tapi, jujur… kadang aku lelah. Aku ingin dirayakan juga dirayakan. Aku juga ingin merasakan kebahagiaan yang begitu hangat yang sekarang rasanya aku lupa.

Dan di antara lelah itu, ada satu hal kecil yang diam-diam masih tersisa— aku merindukanmu. Hanya rindu. Tidak lebih dari itu.

Bukan untuk diulang.  Bukan untuk dimiliki kembali. Hanya untuk mengingat… bahwa aku pernah merasakan sesuatu yang begitu tulus.

Hei, tuan… banyak sekali yang ingin aku ceritakan padamu. Tentang hari-hari yang kulalui sendirian. Tentang lelah yang kupendam tanpa suara. Tentang kecewa yang kutelan tanpa tempat pulang. Setelah aku melangkah sejauh ini… Karena ternyata, tidak semua cerita memiliki “rumah”.

Dan aku… tidak benar-benar memiliki itu sekarang. Aku hidup dalam cerita yang membuatku sering merasa  berdua… tapi tetap sendirian.

Kalau dulu kamu adalah tempatku pulang, sekarang aku sedang belajar… bagaimana caranya menjadi rumah untuk diriku sendiri. Untuk kisah ku yang sekarang. Dan mungkin, itu yang paling sulit.

Untuk kamu, yang pernah menjadi bagian paling hangat dalam hidupku…  Sekali lagi, aku tidak lagi berharap apa-apa.

Aku hanya berharap kamu baik-baik saja. Bahagia dengan hidup yang kamu pilih. Dicintai dengan cara yang pantas kamu dapatkan. Aku berharap apa yang aku alami di kisahku, semoga kamu tidak pernah mengalami dan memperlakukan hal itu ke dia yang saat ini bersama mu.

Percayalah itu sangat sakit, jadi aku mohon jangan seperti itu. Aku pun rasanya tidak rela jika ada wanita lain yang merasakan kepahitan yang aku rasakan ini.

Sekarang, aku berjalan dengan caraku sendiri. Dengan versi diriku yang lebih diam, lebih kuat, tapi juga lebih lelah.

Aku tidak lagi mencari banyak hal di luar sana. Aku hanya ingin hidup yang tenang.  Yang tidak membuatku harus terus bertanya,  yang tidak membuatku harus terus bertahan sendirian.

Dan jika suatu hari nanti semua ini terasa lebih ringan,  mungkin aku akan tersenyum lagi seperti dulu.

Atau mungkin… aku hanya akan menjadi seseorang yang lebih memahami hidup, tanpa harus kehilangan dirinya sendiri.

Untuk saat ini, aku hanya ingin jujur pada satu hal kecil dalam hati: bahwa aku pernah merasa dicintai dengan cara yang sederhana…  dan entah kenapa, hari ini aku merindukan itu.

Dan jika semesta memang punya cara lain untuk mempertemukan yang pernah hilang, mungkin… bukan di kehidupan ini.

Tapi di kehidupan lain, di waktu yang lebih tepat,  di versi diri yang lebih siap. Aku ingin bertemu lagi.

Bukan untuk mengulang cerita yang sama, tapi untuk menyelesaikan kisah yang dulu harus berhenti terlalu cepat.

Untuk kali itu saja…

Aku ingin kita tidak terpisah oleh keadaan.

Aku ingin kita sampai.

Bersama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buku yang Tak Lagi Bisa ku Baca